Loving You [2/2]

loving-youTitle : Loving You

Author : Lumina

Cast : Kim Jongwoon/Yesung (Super Junior), Shin Hyeni (OC)

Rating : G

Genre : romance, sad, angst

Ps : Ini FF yang udah lamaaaaaa, udah cukup banyak yang baca di blog aku yang dulu. FF pertama yang aku ikutin lomba di Fan3less dan menang. Hehehe 😀

Disclaim : -Don’t take any part of this fiction without permission-

 ==================================================

Hyeni POV-

Oppa, sudah cukup, berhentilah berusaha mengeluarkanku dari penjara,” kataku memohon kepadanya untuk menyerah. Sudah satu bulan aku ditahan dan menjalani hukumanku dalam penjara, namun selama satu bulan ini juga Woonie Oppa terus berusaha mengajukan banding kepada pengadilan untuk melakukan persidangan kembali.

Aku mengerti ia sangat ingin aku dibebaskan. Begitupun denganku, ingin keluar dari balik jeruji besi ini agar dapat memeluknya. Namun jika aku harus melihat tubuhnya yang semakin kurus, kulitnya yang pucat, kantung matanya yang menghitam karena terlalu lelah, aku lebih baik bertahan dan tinggal dalam penjara seumur hidupku.

“Aku tidak akan menyerah, Hyeni-ya. Aku pasti akan membebaskanmu dari tempat ini,” ujarnya dengan mata penuh keyakinan dan aku tak kuasa melawan kemauan kerasnya. Aku tahu ia takkan menyerah sekalipun aku melontarkan seribu alasan agar ia berhenti.

***

Aku mencoret tanggalan kecil yang ada dalam diariku, menghitung berapa banyak hari yang berlalu sejak terakhir kali aku bertemu dengan Woonie Oppa. Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima… ya, sudah lima hari ia tidak datang mengunjungiku—tanpa kabar.

Biasanya Woonie Oppa setiap hari akan mengunjungiku, kecuali ia ada pekerjaan penting dan tidak bisa datang—ia akan memberitahuku sehari sebelumnya. Tapi kali ini, sudah lima hari berlalu dan ia juga tidak mengatakan apapun pada hari terakhir kami bertemu.

“Shin Hyeni, ada yang mencarimu,” panggil kepala penjara. Aku segera bergegas keluar dan berjalan ke arah ruang pertemuan. Woonie Oppa, akhirnya kau datang, aku sangat merindukanmu.

Kepala penjara membukakan pintu untukku, aku masuk dengan riang, namun senyum di wajahku lenyap ketika melihat siapa yang datang. Bukan Woonie Oppa. Seorang wanita berusia tiga puluhan dengan pakaian kantoran—kemeja putih dan blazer abu-abu muda—berdiri di depanku.

Annyeonghaseo, Hyeni-ssi,” sapanya ramah.

Ah, ne, annyeonghaseo. Nuguya?”

“Kenalkan, choneun Hwang Jieun imnida, kau bisa memanggilku Hwang-ssi. Aku adalah Asisten Pengacara Kim Jongwoon,” wanita bernama Hwang itu memperkenalkan dirinya.

Ah, ye.” Aku mengangguk pelan, dalam hati aku bertanya-tanya, ‘Mengapa Woonie Oppa mengirim asistennya untuk menemuiku?’

Kami duduk berhadapan. Hwang-ssi tidak kunjung bicara—hanya menatapku dengan raut wajah yang sulit untuk dilukiskan.

Kuperhatikan Hwang-ssi menarik nafasnya sebelum mulai bicara, “Hyeni-ssi, sebenarnya aku datang untuk memberitahu sesuatu mengenai tuan pengacara Jongwoon.”

Ne? Ada apa dengan Woonie Oppa?” tanyaku dengan penuh perasaan tidak enak karena melihat raut wajah Hwang-ssi yang tampaknya tidak membawa kabar baik.

“Tuan Pengacara Jongwoon… ia mengalami kecelakaan lima hari lalu dan saat ini berada di rumah sakit.”

Dalam sekejap aku merasa tubuhku seolah terhempas, kehilangan gaya gravitasi, terlempar ke udara hingga aku tak bisa merasakan keberadaan tubuhku sendiri.

“…ni-ssi, gwenchana?”  panggilan Hwang-ssi menyadarkanku kembali.

Ne, gwenchana,” jawabku lirih, “Bagaimana keadaannya sekarang?”

Hwang-ssi sedikit menundukkan kepalanya, “Dia… saat kecelakaan terjadi, kepalanya terbentur dengan sangat keras dan ia kehilangan penglihatannya. Fungsi saraf kedua matanya rusak total, Tuan Pengacara Jongwoon… saat ini ia tidak bisa melihat lagi, ia mengalami kebutaan.”

“Bu… ta?” gumamku, pikiranku kosong, rasanya aku tak percaya dengan pendengaranku sendiri. Apakah ini kenyataan? Woonie Oppa… buta?

Ne, ia sangat frustasi mengetahui bahwa ia kehilangan penglihatannya. Ia terus memanggil nama anda setiap hari, namun ketika saya mengatakan padanya untuk menemui anda, ia menolak. Katanya sekarang ia adalah seorang pria buta yang tidak lagi bisa melindungi Hyeni-ssi,” papar Hwang-ssi yang membuatku bisa membayangkan bagaimana perasaan Woonie Oppa, “Padahal, kurasa Hyeni-ssi harus tahu. Saat kecelakaan itu terjadi, tuan pengacara Jongwoon sedang dalam perjalanan ke penjara untuk menemui anda. Setelah ia bekerja keras mengajukan banding kepada pengadilan, akhirnya pengadilan memutuskan untuk menyelidiki kasus anda sekali lagi. Sewaktu ia mendengar kabar ini, ia segera mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan kantor, padahal saya tahu ia lelah karena telah beberapa hari tidak tidur.”

Andwe… semua ini terjadi karena aku. Woonie Oppa mengalami kecelakaan karena aku. Dan sekarang ia buta karena aku. Ottokhae?

***

Pikiranku terus dipenuhi olehnya. Sejak seminggu lalu Hwang-ssi memberitahu kabar tentang Woonie Oppa, aku tidak bisa berhenti memikirkannya sedetikpun.

Kuseka air mata yang kembali mengalir tiap kali aku memikirkannya. Dengan segera aku kembali melanjutkan pekerjaanku—mengelap besi-besi penyangga di balkon lantai tiga. Hari ini giliranku untuk membersihkan lantai tiga bersama dengan beberapa tahanan lainnya.

Ketika tanganku sedang mengelap debu yang menempel di sudut pembatas besi, aku mendengar suara ribut mendekat ke arahku. Tak lama kemudian aku melihat segerombolan tahanan berjalan ke arahku. Mereka—empat orang wanita—sedang berkelahi satu sama lain. Saling menjambak dan memukul, mencakar dan menampar.

Aku segera bangun dan berlari ke arah mereka, “Yaa, hentikan, kepala penjara bisa menghukum kalian jika ia mengetahui kalian berkelahi!”

Dengan sekuat tenaga aku berusaha melerai mereka, namun dua orang dari mereka malah membalasku dengan pukulan karena menyangka aku adalah teman dari tahanan yang lain. Akhirnya aku berusaha melindungi diri sekaligus melepaskan diri dari mereka.

Aku hampir lolos ketika aku merasa ada sebuah tangan mendorongku dengan kuat, sedetik kemudian aku merasa kakiku terangkat dan tubuhku terlontar keluar dari pembatas besi di lantai tiga yang memang tingginya hanya sepinggangku.

Tubuhku melayang di udara. Tertarik ke bawah karena gaya gravitasi dan akhirnya terhempas di tanah dengan keras. Kurasakan sakit dan nyeri disekujur tubuhku, tulangku, sendi-sendiku. Aku merasakan darah mengalir di kepalaku. Kukedipkan mataku berkali-kali ketika merasa darah dari dahiku mengalir memasuki kedua bola mataku. Suara orang beramai-ramai terdengar semakin mendekat, namun sebelum mereka benar-benar mendekat, aku merasa kepalaku sangat berat dan tak sadarkan diri.

***

Ketika akhirnya aku membuka mata, aku berada di koridor rumah sakit. Dokter, suster, dan kepala penjara mengerubungiku dan mendorong tempat tidurku sepanjang koridor rumah sakit.

Akhirnya aku masuk ke dalam sebuah ruangan. Dokter segera mengambil suntikan yang diberikan oleh suster. Dengan sisa tenaga yang aku punya, kugenggam tangannya, “Euisa, jaebal… kumohon lakukan sesuatu untukku…”

***

-Jongwoon POV-

Lima tahun telah berlalu. Lima tahun yang terasa bagai tinggal dalam ruang hampa tanpa oksigen sekalipun aku jelas masih bernafas dan hidup. Lima tahun yang terasa gelap sekalipun cahaya matahari tak pernah berhenti menyinari bumi.

Aku berdiri di sebuah makam, membawa buket bunga mawar putih di tanganku sebagai tanda cintaku yang tulus untuknya.

Ketika memandang batu nisan di hadapanku yang bertuliskan namanya, aku menyentuh bola mataku, anii, ini adalah bola matanya yang diberikan untukku. Bola matanya yang penuh sinar kehangatan, bola mata yang menjadi bagian yang paling kusukai darinya.

“Hyeni-ya, annyeong. Bagaimana kabarmu di sana?” tanyaku pada baru nisan yang bergeming. Kusentuh batu nisan yang dingin itu, sangat berbeda dengan tangannya yang selalu terasa hangat.

Pikiranku kembali ketika pertama kali aku tersadar setelah menjalani operasi pencangkokan mata, lima tahun lalu…

Flashback

Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Perlahan-lahan aku bisa melihat cahaya yang selama ini tak pernah lagi kulihat sejak aku kehilangan fungsi penglihatanku.

Kulirik dokter, suster, kedua orang tuaku, dan juga Hwang-ssi yang berdiri di sampingku. Wajah mereka semua mengatakan bahwa mereka ingin tahu reaksiku. Maka aku segera menganggukkan kepalaku, tanda bahwa aku bisa kembali melihat seperti dulu.

“Aku.. bisa melihat,” kataku yakin, diikuti dengan senyuman dari semua orang dalam ruang rawatku.

“Hwang-ssi,” panggilku pada asistenku, “Bisakah kau antarkan aku ke penjara?”

Bahkan sebelum aku menjalani operasi pencangkokan mata, aku selalu merindukannya. Selama aku berada di ruang operasi, bayangan wajahnyalah yang membuatku yakin bahwa operasiku akan berjalan lancar. Dan detik demi detik yang kulewati selama menunggu perban di mataku dilepas, kulalui dengan harapan akan melihat wajahnya lagi setelah berulang kali aku putus harapan karena kebutaanku. Maka ketika aku kembali bisa melihat, hal pertama yang ingin kulakukan adalah menemuinya dan melepas semua perasaan rinduku padanya.

“Mianhae, tuan pengacara, ada satu hal yang kami rahasiakan darimu,” ujar Hwang-ssi lirih, aku menatapnya penuh tanya, “Mata anda, bola mata yang sekarang anda gunakan untuk melihat, adalah bola mata milik Hyeni-ssi.”

Untuk sesaat aku berpikir bahwa menjadi buta bukanlah hal yang buruk di dunia ini. Tentu aku lebih memilih menjadi buta daripada melihat dengan bola mata milik gadis yang kucintai.

“Mwo? Apa maksudmu, Hwang-ssi?”

“Hyeni-ssi, ia terjatuh dari lantai tiga di penjara karena terlibat perkelahian dengan tahanan lain. Sebelum meninggal, ia meminta agar bola matanya diberikan untuk anda,” jelas Hwang-ssi yang tentunya tidak bisa kuterima. Aku menjerit-jerit seharian. Berteriak memanggil-manggil namanya seperti orang gila. Untuk pertama kalinya aku benci melihat dunia ini. Untuk apa aku melihat dunia tanpanya?

Berhari-hari aku mengurung diriku. Tidak makan dan minum sedikit pun hingga kesehatanku memburuk dan tubuhku lemah. Akhirnya aku dibawa ke rumah sakit setelah pingsan karena tubuhku tak sanggup lagi bertahan dengan kerasnya kemauanku untuk menyusulnya ke Surga.

Saat berada di rumah sakit, Hwang-ssi datang mengunjungiku dan membawakan sebuah buku diary milik Hyeni. Perlahan kubuka buku itu dan kubaca halaman demi halaman hingga tiba pada bagian di mana ia bercerita tentangku.

 *

–12 Januari–

Akhirnya aku terbangun dan tersadar kembali ke dunia ini. Semua berkatnya, berkat Woonie Oppa yang selalu menemaniku selama ini. Bahkan ketika aku tak menyadari kehadirannya, ia tetap menemaniku.

Aku menyadari kehadirannya untuk pertama kali setelah aku mencoba bunuh diri di rumah sakit dengan melilitkan selang di kamar mandi ke leherku. Ia mengatakan padaku agar tidak melakukannya lagi. Meskipun saat itu aku belum sepenuhnya sadar, aku bisa dengan jelas mendengar suaranya. Mungkin kata-katanya yang telah membuatku tidak mengulangi perbuatanku meskipun berkali-kali aku ingin melenyapkan diriku ketika bayangan malam itu muncul dalam kepalaku.

Kedua kali aku mendengar suaranya adalah kemarin, saat ia membawaku ke taman. Ia mengatakan akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkanku. Tanpa kusadari aku meneteskan air mata saat itu, dan sedikit demi sedikit kesadaranku mulai kembali, sekalipun aku tetap tidak dapat bicara.

Dan hari ini, ketika pagi-pagi aku terbangun, aku membayangkan sosoknya yang selama ini berada di sampingku. Suster terkejut ketika aku memanggilnya dan memintanya untuk mengajakku jalan-jalan ke taman, ke tempat Woonie Oppa membawaku kemarin. Ketika ia datang dan mengetahui keadaanku, aku tak bisa menahan diri untuk tersenyum padanya. Entah mengapa aku merasa ia pernah mengatakan bahwa ia menyukai senyumku, karena itu aku pun memberikan senyum terbaikku untuk menyambutnya.

*

–14 Januari–

Hari ini aku dan Woonie Oppa banyak mengobrol tentang berbagai hal. Tentunya juga tentang kejadian pembunuhan yang kulakukan. Ia bersikeras ingin membelaku di pengadilan sebagai pengacaraku. Melihat pancaran matanya yang begitu kuat, aku sadar dia takkan merubah keinginannya. Mungkin lebih baik aku membiarkannya membelaku. Lagipula aku takut membayangkan diriku jika harus terkurung dalam penjara.

*

–15 Januari–

Ia menyentuh lesung pipitku dan berkata ia menyukainya. Ia juga berkata bahwa ia menyukai pancaran mataku yang hangat. Jantungku berdebar sangat cepat ketika ia mengatakan semua hal itu. Woonie Oppa, aku berjanji akan selalu tersenyum dan memandangmu dengan hangat seperti ini. Sekalipun terkadang aku ingin menangis setiap bayangan malam itu muncul dan pembunuhan yang telah kulakukan, tapi aku akan selalu tersenyum di hadapanmu.

*

–16 Januari–

Tiga hari lagi persidanganku akan berlangsung, aku melihatnya sangat kelelahan. Tanpa sadar tadi aku menyentuh wajahnya ketika ia tertidur di nakas. Kurasa, aku telah jatuh cinta padanya. Tidak, aku tidak boleh mencintainya. Dia adalah pria baik-baik, tidak pantas seorang pembunuh sepertiku mencintainya.

*

–18 Januari–

Ia mengatakan bahwa ia mencintaiku. Saat itulah seluruh tembok pertahananku runtuh. Semula aku berniat menjauhinya dan berharap ia tidak masuk telalu jauh dalam kehidupanku. Tapi pada akhirnya aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku mencintainya. Woonie Oppa terima kasih karena kau telah mencintaiku. Kuharap persidangan besok berjalan dengan baik dan kita akan bisa hidup bersama.

*

–20 Januari–

Hakim memutuskan bahwa aku bersalah dan menjatuhkan hukuman lima tahun penjara atas diriku. Hari ini pertama kalinya aku bangun dari tidurku dan menyadari aku berada dalam penjara yang dikelilingi jeruji besi. Kuharap waktu lima tahun tidak akan terlalu lama untuk dilewati. Shin Hyeni, hwaiting!

*

–15 Februari–

Kumohon menyerahlah Woonie Oppa. Mengapa ia terus berusaha untuk membebaskanku dan mengorbankan dirinya sendiri. Aku begitu menderita melihat dirinya yang semakin kurus dan terlihat pucat dengan kantung mata yang hitam. Ia pasti berhari-hari lembur dan tidak menjaga dirinya dengan baik. Aku lebih memilih hidup di penjara dan menjalani hukumanku selama 5 tahun daripada melihatnya seperti ini.

*

–21 Februari–

Hwang-ssi datang dan menjawab pertanyaanku selama ini. Woonie Oppa mengalami kecelakaan dan sekarang ia buta karena aku. Andai ia tidak terlalu lelah karena mengurus masalahku, semua ini takkan terjadi. Apa yang harus kulakukan? Andai ada suatu hal yang bisa kulakukan untuk membuatnya dapat melihat lagi, aku rela menukarnya dengan apapun.

*

Aku menutup buku diary di tanganku. Hwang-sii mengulurkan sapu tangannya ketika menyadari air mata telah menggenang di pelupuk mataku.

“Sebelum meninggal, dalam keadaannya yang lemah setelah menjalani operasi, Hyeni-ssi meminta kepala penjara menuliskan sebuah surat untukmu,” kata Hwang-ssi sambil mengulurkan sebuah amplop berwarna putih. Aku segera mengambil amplop di tangannya dan membuka surat terakhir dari Hyeni.

*

Woonie Oppa, annyeong..

Bagaimana kabarmu? Apakah kau bisa membaca surat ini? Kalau kau bisa membacanya aku akan merasa sangat senang karena itu berarti mataku bekerja dengan baik di tubuhmu.

Woonie Oppa, tahukah kau bahwa kau adalah hadiah terindah dari Tuhan dalam hidupku yang gelap. Setelah pembunuhan yang kulakukan, aku tidak memiliki alasan lagi untuk hidup di dunia ini, namun kau akhirnya memberikanku satu alasan untuk tetap hidup. Karena aku mencintaimu, dan karena kau juga mencintaiku, karena itulah aku terus hidup.

Kaulah yang membuatku terbangun dari dunia gelapku. Kau satu-satunya yang bisa menerimaku apa adanya tanpa image seorang pembunuh yang melekat dalam diriku. Dan kau adalah satu-satunya orang yang mencintaiku dengan tulus. Gomawo, Oppa.

Ketika Hwang-ssi membawa kabar bahwa kau kehilangan penglihatanmu, saat itu aku tak bisa percaya bahwa hal buruk terjadi pada dirimu karenaku. Aku memohon pada Tuhan agar kau bisa kembali melihat. Dan ternyata aku diberikan kesempatan itu. Aku yakin sekarang harapanku telah dikabulkan Tuhan, kau pasti sekarang telah bisa melihat dengan baik.

Oppa, aku ingat kau pernah bilang bahwa kau menyukai pandangan mataku yang hangat, jadi, kurasa aku telah meninggalkan bagian terbaik dari diriku di dunia ini. Kau bisa melihat pandangan mataku kapan pun kau mau. Setiap kau menatap ke dalam cermin, kau akan menemukannya di sana, dalam dirimu, aku ada di sana, dalam kedua bola mata yang sekarang telah menjadi milikmu.

Woonie Oppa, aku hanya ingin kau berjanji satu hal padaku. Hiduplah dengan baik. Kau pernah berkata padaku agar aku tidak meninggalkanmu karena kau tak bisa hidup tanpaku, benar kan Oppa? Aku katakan padamu, aku tidak pernah meninggalkanmu. Sekarang aku ada bersamamu dan melihat dunia ini bersamamu, jadi kau harus bisa hidup dengan baik. Dan, temukanlah gadis lain yang bisa kau cintai, jangan sampai kau menikah dengan pekerjaanmu, hehehe. Aku yakin akan ada gadis di luar sana yang mencintaimu lebih daripada aku mencintaimu.

Saranghae, Shin Hyeni

Flashback end

***

Aku mengendarai mobilku pulang ke apartemenku. Langit telah berwarna jingga, langit sore yang disukai Hyeni.

“Hyeni-ya, lihatlah… Langit hari ini sangat indah, kau senang melihatnya?” tanyaku sambil menurunkan kaca mobilku dan menatap langit dengan kedua matanya.

Aku kembali mengarahkan pandanganku ke depan, memperhatikan jalan yang sepi. Di kejauhan aku melihat sosok seorang gadis yang familiar sedang berjalan di trotoar—ke arahku. Jarak di antara kami makin dekat dan aku bisa melihatnya berjalan sambil mengenakan tongkat. Ketika ia melewati mobilku, aku meliriknya dan terkejut mendapati bahwa diriku mengenalnya.

Segera kuhentikan laju mobilku. Dengan cepat keluar dari mobil dan berlari ke arahnya yang berjalan semakin menjauh. Ketika jarakku dengannya hanya tinggal satu meter, aku berhenti berlari, berjalan perlahan ke arahnya, melewati tubuhnya dan berdiri di depannya.

“Ah.. jeosonghamnida,” katanya pelan dengan suara yang sangat kukenal. Ia memutar tubuhnya dan berjalan sedikit ke arah kanan sebelum kembali melangkah maju. Aku kembali menghadangnya.

Jeosonghamnida,” katanya lagi meminta maaf sambil sedikit membungkukkan tubuhnya yang kurus.

Ia kembali mencari jalan melalui tubuhku. Namun aku kembali menghadangnya.

Jeosonghamnida, aku tidak bisa melihat, apakah anda orang yang sama yang kutabrak dari tadi? Aku benar-benar minta maaf,” katanya sambil membungkuk berkali-kali. Aku memperhatikan wajahnya yang tertutup kaca mata hitam. Dengan lembut kulepas kaca mata hitamnya sehingga ia terkejut.

“Ah.. wae?” tanyanya bingung, aku melihatnya yang kebingungan di hadapanku. Aku mengenalnya, wajahnya yang lembut, pipinya yang tembam, dan lesung pipitnya, sekalipun tanpa bola mata.

Kedua kelopak matanya terpejam, dengan sedikit bekas luka—tanda ia pernah menjalani operasi pengangkatan bola mata. Aku tak bisa menahan diriku lagi, ia… aku sangat merindukannya.

Kuraih tubuhnya dan kupeluk dirinya erat. Ia meronta, namun aku semakin mengeratkan pelukanku.

Yaa! Apa yang kau lakukan?!” teriaknya histeris.

“Diam, jangan bergerak,” jawabku lirih—setengah berbisik di telinganya. Ia segera berhenti meronta. Nampaknya ia sadar siapa aku lewat suaraku.

“Wo.. Woonie Oppa? Apakah itu kau?” tanyanya ragu-ragu.

“Mengapa kau berbohong padaku, Hyeni-ya? Mengapa Hwang-ssi bilang kau meninggal? Wae??” tanyaku dengan penuh emosi yang bercampur aduk—antara senang karena aku bisa melihatnya lagi, namun juga marah karena sadar ia telah mempermainkanku.

Aku melihat air mata mengalir dari matanya yang tertutup. Dengan segera kuseka air matanya menggunakan ibu jariku.

“Jangan menangis, kau bukankah berjanji untuk selalu tersenyum di depanku?”

Mianhae, Woonie Oppa,” ujarnya terisak, “Mianhae karena aku telah berbohong padamu. Aku tidak ingin kau tahu aku masih hidup dan menunggu gadis buta sepertiku selama lima tahun aku di penjara.”

Paboya, dulu kau mengatakan bahwa kau adalah pembunuh, lalu setelah lima tahun berlalu kau malah mengatakan kau ini gadis buta? Kau menjadi buta karena aku!” seruku setengah berteriak, siapa tahu ia lupa bahwa kedua bola matanya sekarang berada di dalam rongga mataku.

“Aku hanya melakukan yang seharusnya kulakukan. Kau kehilangan penglihatanmu karena aku, jadi aku hanya mengembalikan yang seharusnya menjadi milikmu,” jawabnya masih dengan terisak.

“Kau.. belum mengembalikan satu hal lagi,” kataku sambil memandang wajahnya lekat-lekat. Tanganku terulur mengangkat dagunya dan mendaratkan kecupan singkat di bibirnya.

Oppa?”

“Kau belum mengembalikan hatiku, Hyeni-ya. Kau masih membawanya bersamamu,” ujarku di telinganya.

“Ka.. kalau begitu bagaimana caraku mengembalikannya? Aku akan mengembalikan semuanya. Tolong lupakan aku Oppa dan temukan gadis lain yang lebih baik dariku,” Ia memohon sambil menangis, menundukkan kepalanya dan mendorong tubuhku menjauh.

“Kau ini, mengapa begitu keras kepala? Kau kira ada gadis lain yang lebih baik darimu?”

“Pasti ada, Oppa!” Ia mulai ikut berteriak, “Pastinya bukan gadis buta sepertiku. Pasti ada gadis lain yang akan mencintaimu dengan tulus. Bahkan ia pasti akan mencintaimu lebih daripada aku.”

Aku menariknya dalam pelukanku. Menyesap aroma tubuhnya yang terpancar dari sela-sela tengkuknya, “Tidak ada. Sejak kau memintaku untuk mencari gadis lain di suratmu, aku tidak pernah menemukannya selama lima tahun terakhir. Tidak akan pernah ada gadis lain yang akan mencintaiku hingga rela memberikan kedua bola matanya yang paling indah untukku. Saranghae, Hyeni-ya. Kumohon, jangan pernah meninggalkanku lagi.”

Aku memeluknya erat. Tak lama aku bisa merasakan tangannya terulur membalas pelukanku.

Gomawo, Woonie Oppa. Naddo, saranghae.”

[THE END]

luminasignature

Advertisements

22 thoughts on “Loving You [2/2]

  1. Daebak eonn… aku pembaca baru disini tapi cuma ini yang ngebuat aku nangis…dan aku kira bakal sad ending ternyata…. ahhh tertipu… thx ya eonn ceritanya

  2. Aku terharu bacanya :’) Sampai nangis gini hehe. Keren! Awalnya iseng nyari ff dan nemu ff ini. Sedih dan semuanya dpt bgt! Aah pokoknya keren deh! Keep writing thor!

Give a flower/ fruit

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s