The Blue in You – Chapter 4 : Mess We’ve Made

the-blue-in-you

Title : The Blue in You – Chapter 4 : Mess We’ve Made

Author : Lumina

Main Cast :

  • Jung Yoora (OC)
  • Choi Minho (Shinee)
  • Kim Kibum (Shinee)
  • Jung Yoogeun (ulzzang)

Support Cast : Park Hyosun (OC), Nyonya Choi (Minho’s Mother)

Rating : PG – 17

Genre : romance, family, drama

Ps : Bisa dibilang part ini akan menjawab semua pertanyaan yang terlintas dalam part-part sebelumnya. Yeah, ini satu part sebelum terakhir. FF ini emang gak dibikin terlalu panjang, karena semakin panjang, maka semakin sulit bagiku untuk menyelesaikannya—aku terlalu males ngetik sekalipun banyak banget hal yang pengen aku tulis. Hope you enjoy 😉

Disclaim : -Don’t take any part of this fiction without permission-

============================================

Malam itu, Yoora terbaring di atas tempat tidurnya dengan selimut menutupi hingga batas dadanya. Menit demi menit berlalu, namun ia tak kunjung terlelap—terombang-ambing antara tidur dan terjaga. Dalam kepalanya berputar ingatan demi ingatan yang selama ini terpendam dalam. Minho, pria itulah yang telah membuatnya kembali mengingat masa-masa kelam dalam hidupnya—yang sangat ingin ia lupakan.

Dirasanya kerongkongannya mulai kering. Yoora beranjak perlahan dari tempat tidurnya lalu melangkah ke pintu. Ia berjalan ke dapur dan mengambil segelas air.

Air dingin membasahi kerongkongannya, tetapi dahaganya belum juga hilang. Ada sebuah rasa sesak yang membuatnya merasa seperti tercekik hingga untuk bernafas normal pun rasanya sulit.

Mata Yoora terpejam dan ia mengigit bibirnya kuat-kuat hingga hampir berdarah. Di bibir itu—beberapa jam yang lalu—menjadi tempat penyerahan dirinya. Menyerah akan sakit hati dan luka batinnya. Menyerah akan kebencian yang dipupuknya selama lima tahun. Ia menyerah dan membiarkan perasaan yang terkubur dalam hatinya mencuat keluar. Rasa cinta yang seharusnya ia lempar jauh-jauh ke dasar jurang, nyatanya masih teronggok di sela-sela hatinya.

Minho. Bagaimana mungkin pria itu masih dicintainya setelah apa yang diperbuat pria itu padanya lima tahun lalu? Bodoh atau pun gila, kedua kata itu pantas dilontarkan untuk Yoora. Nampaknya akal sehat memang menjauh dari otaknya, karena bisa-bisanya ia kembali melontarkan dirinya ke dalam semak-semak belukar yang mengiris kulit dan dagingnya perlahan hingga meninggalkan bekas berdarah—bahkan bernanah.

Lantas, bagaimana ia harus menghadapi Key setelah ini? Bersyukur karena malam ini, ia berhasil menutupi kenyataan dari pria itu. Namun bagaimana dengan esok hari, lusa hari, dan hari-hari setelahnya? Ia tak mungkin menyakiti pria itu setelah semua pengorbanan yang dilakukan Key untuknya. Tak ingin pula mematahkan hati pria itu setelah lima tahun penantian pria itu akhirnya berujung pada kesediaan dirinya menerima perasaan Key.

Yoora berjalan ke arah kamar Yoogeun. Didorongnya dengan sangat perlahan daun pintu hingga tak bersuara. Ia masuk dan duduk di tepi tempat tidur bocah lelaki itu. Perlahan dibelainya puncak kepala Yoogeun, lembut.

Mianhae,” bisik Yoora sangat pelan. Sebagai seorang ibu, Yoora merasa bersalah pada buah hatinya karena menutupi keberadaan ayah kandungnya. Namun, sebagai seorang wanita yang hatinya pernah sekali disakiti, menutupi kenyataan merupakan satu-satunya cara untuk tidak kembali membuka luka lama.

Setetes air mata jatuh dari sudut matanya, namun Yoora sendiri tak mengerti alasannya menangis. Mungkin perasaan bersalahnya pada Yoogeun? Pada Key? Atau pada dirinya sendiri yang telah berulang kali menyangkali perasaannya? Karena sesungguhnya ia telah mengetahui hal ini sejak kali pertama Minho kembali dalam hidupnya. Benih kebencian apa pun yang ia tanamkan dalam hatinya, pada kenyataannya tak mampu mengikis perasaan cintanya pada Minho. Dan sekalipun bibirnya terus menyangkal, namun hatinya menjerit menyerukan rasa sakit sekaligus rindu yang membaur jadi satu.

Eomma?” panggil Yoogeun parau sembari mengusak matanya. Bocah itu terbangun dari tidurnya dan mendapati Yoora duduk di sebelahnya.

Ah,” Yoora terkejut dan segera memalingkan wajah untuk menghapus sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.

Eomma, wae-yo?” tanya Yoogeun polos, ia bangun dan mengambil posisi duduk bersandar di tempat tidurnya dengan bertumpu pada kedua tangannya yang terletak agak ke belakang.

Gwenchana,” jawab Yoora lembut seraya mengelus pelan pipi tembam Yoogeun. “Apa Eomma membangunkanmu? Mianhae.”

Yoogeun menggeleng, “Anii-ya.” Mata Yoogeun menatap Yoora lekat lalu tangannya turut memegang pipi Yoora. “Apa Eomma menangis? Wae-yo?”

Yoora tertegun sejenak mendengar pertanyaan Yoogeun lalu menjawab hanya dengan senyuman karena tak kunjung menemukan jawaban yang sepantasnya ia berikan. Bisa saja ia berbohong dengan mengatakan tidak atau matanya kemasukan debu, namun ia sudah terlalu banyak berbohong dan tak ingin kembali menimpali kebohongan di atas kebohongan.

Eomma, apa kau marah karena aku pergi mencari Euisa Ahjussi? Karena itukah Eomma menangis?” tanya Yoogeun lagi dengan tatapan bersalah. “Mianhae, Eomma.”

Batin Yoora terasa sesak mendengar Yoogeun menyebut Minho sebagai Euisa Ahjussi. Yoora yakin anak ini tahu siapa pria yang dipanggilnya Euisa Ahjussi itu. Yoogeun anak yang pandai, itulah yang membuat bocah itu dengan berani mencari sendiri kebenaran akan pertanyaan yang digumulinya—akan keberadaan seorang yang disebut ayah baginya. Namun demi dirinya, Yoogeun mengesampingkan keinginannya untuk memanggil Appa kepada seorang pria yang sesungguhnya memang ayah biologisnya.

Tangan Yoora merengkuh Yoogeun ke dalam pelukannya, sangat erat. Air mata kembali menetes saat Yoora memejamkan mata di balik punggung Yoogeun.

Mianhae, Yoogeun-ah,” bisik Yoora di telinga Yoogeun—dan hanya satu kata maaf itu yang dapat terucap dari bibir Yoora hingga malam semakin larut dan membuat keduanya tertidur berdampingan.

***

Lembaran kertas berserakan di atas meja kerja Key. Tubuh Key duduk dengan tegang, tangannya bertumpu di atas meja, jemarinya terkait satu sama lain dan digunakan untuk menopang dagunya. Berbagai pikiran bergerak semerawutan di kepalanya; pikiran tentang pekerjaannya, tentang Yoora, dan tentang Hyosun.

Banyak yang telah berubah dalam diri gadis itu sejak terakhir kali Key bertemu dengannya saat hari kelulusan SMA. Hyosun yang ia kenal saat itu, hanyalah seorang gadis kutu buku berkaca mata dengan bingkai tebal dan rambutnya selalu dikucir rendah dekat tengkuknya. Tipikal gadis yang sering dijumpai di perpustakaan atau sudut-sudut toko buku, tengah berkutat dalam kubangan buku-buku tebal yang hanya menarik bagi segelintir orang.

Hyosun adalah gadis yang baik, ramah, dan merupakan satu-satunya teman perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan Key. Mungkin mereka bisa disebut pernah bersahabat—bersama dengan tumpukan buku yang selalu mereka baca bersama setiap hari. Perpustakaan merupakan tempat di mana mereka menghabiskan hampir sepanjang waktu bersama. Terkadang mereka bertukar cerita mengenai isi buku yang mereka baca, namun lebih banyak menghabiskan waktu dalam diam dan larut dalam bacaan masing-masing.

Apa Yoora Sunbae sudah tahu apa yang terjadi lima tahun lalu?

Pertanyaan itu terdengar sayup-sayup dari keheningan. Terngiang-ngiang dalam kepalanya, ketika benang-benang sarafnya kembali mengingatkan peristiwa yang terjadi lima tahun lalu.

[Flashback]

Denting hujan rintik-rintik terdengar seirama dengan langkah kaki Key dan Hyosun kala menapaki trotoar panjang menuju halte bus. Mereka baru saja keluar dari toko buku dan tak menyadari bahwa langit sudah gelap serta awan-awan di atas kepala sana tengah menurunkan tetes demi tetes air ke bumi.

Jalan raya di sisi kanan mereka masih ramai. Terkadang suara klakson dari mobil-mobil yang saling menyalip terdengar memekakkan telinga. Key menyampirkan jaketnya di atas kepala Hyosun, mencoba melindungi gadis itu dari hujan yang turun semakin deras.

“Palli-wa,” seru Key mulai mempercepat langkah kakinya, “hujan semakin deras, kita bisa basah.”

Halte bus berada sekitar enam meter di depan mereka, namun di seberang sana, orang banyak nampak berkerumun. Entah apa yang berada di tengah kerumunan, yang pasti hal itu membuat benak Key bertanya-tanya.

“Key Oppa?” panggil Hyosun saat Key berhenti berjalan dan tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Hyosun mengalihkan pandang ke arah yang diamati Key.

“Ada apa, ya, di sana?” tanya Key—bergumam pada dirinya sendiri.

Maka diliputi dengan rasa penasaran, Key turun dari trotoar dan menyeberang. Hyosun mengikutinya dari belakang selang beberapa langkah.

“Permisi,” ucap Key sembari mencoba menerobos kerumunan orang yang cukup rapat, “ada apa di sini?”

“Ah, ini kecelakaan,” jawab seorang pria berjaket coklat tua yang berdiri di dekat Key dan kebetulan mendengar pertanyaan Key. “Anak lelaki ini mengebut dan tak memperhatikan jalan. Hampir saja menabrak bus, namun ia membanting stir dan menabrak pembatas jalan.”

Key mendengar penuturan pria itu dan rasa penasaran mendesaknya menerobos semakin ke tengah. Dilihatnya sebuah mobil teronggok di jalan. Bagian depan mobil ringsek karena menabrak pembatas jalan. Kemudian di arahkan pandangannya kepada korban kecelakaan yang terbaring di permukaan aspal—bersimbah darah yang mengucur dari kepala dan hidungnya.

“Minho?!” Key tak dapat menyembunyikan keterkejutan dari ekspresinya. Ia melangkah semakin dekat, sedikit mendorong orang-orang yang mencoba menghalanginya. Ia berlutut di samping tubuh Minho yang tergeletak di jalanan yang mulai basah karena air hujan. “Ya, Choi Minho!”

Tentunya Minho saat itu tak sadarkan diri dan tak dapat mendengar panggilan Key. Hyosun berdiri di dekat Key saat itu, memandang ke arah Minho yang dikenalnya sebagai salah satu kakak kelasnya.

Sirene ambulance bergema memecah melodi yang ditimbulkan oleh rintik hujan. Petugas rumah sakit turun dari mobil ambulance dan langsung menghampiri tubuh Minho. Mereka memindahkan tubuh Minho ke atas tempat tidur dan menaikkannya ke ambulance.

Tepat saat tubuh Minho diangkat, Key melihat sesuatu terjatuh dari tangan Minho dan bergulir ke bawah kakinya. Dipungutnya benda kecil berkilau itu dan didapatinya bahwa benda itu adalah sebuah cincin keperakan dengan jejeran batu permata yang bersinar meski ada bercak darah menutupi sebagian permukaannya.

“Apa anda mengenal korban?” tanya seorang petugas rumah sakit pada Key dan membuyarkan lamunannya.

“Ah, ne. Kami teman satu sekolah,” jawab Key agak terbata.

“Bisa ikut kami ke rumah sakit? Kami butuh informasi tentang korban.”

“Ne,” Key mengiyakan. Ia lalu menghampiri Hyosun, “Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Dia… yang barusan kecelakaan, adalah temanku.”

Hyosun mengangguk mengerti. Setelahnya Key berbalik dan menyusul petugas yang telah menunggu di depan pintu ambulance.

Key memberikan informasi sejauh yang ia ketahui tentang Minho. Ia juga menitipkan cincin yang tadi ditemukannya—yang ia yakini dengan pasti telah terjatuh dari genggaman tangan Minho—kepada suster. Setelah melakukan semua itu, barulah ia undur diri dan meninggalkan rumah sakit tempat Minho dirawat.

[Flashback End]

Mata Key tertumbuk pada  sebuah bingkai foto di atas mejanya. Foto di dalamnya diambil ketika ia berpiknik bersama dengan Yoora dan Yoogeun akhir pekan lalu.

Key menghela nafas berat. Ia bertanya-tanya, mengapakah jalan menuju kebahagian terasa sangat panjang hingga kakinya kini mulai terasa letih? Jalan tersebut berliku-liku hingga Key sendiri tak mampu melihat apa yang berada di ujungnya.

Ia mulai merasa ragu akan masa depan yang diimpikannya bersama Yoora. Sungguhkah semua itu akan terwujud? Atau itu hanyalah angan-angan yang kosong dan akan berakhir seperti uap yang mengepul dan menghilang di udara, tak berbekas?

Key sadar kembalinya Minho dalam kehidupan Yoora mampu mengubah semua hal yang telah susah payah ia rajut selama lima tahun terakhir. Terlebih, ia tahu bahwa Minho juga mencintai Yoora. Ya, cincin yang lima tahun lalu ia temukan merupakan bukti nyata. Di sudut hati Key, ia merasa cincin itu merupakan wujud perasaan Minho yang sesungguhnya pada Yoora. Terlepas dari kenyataan bahwa Minho sempat meninggalkan Yoora—yang tak ia ketahui alasannya—ia yakin Minho kembali datang untuk mengambil apa yang pernah menjadi miliknya lima tahun lalu. Kini hanya satu pertanyaan yang timbul dalam benaknya, apakah Yoora akan tetap memilih dirinya bila Minho memintanya kembali?

***

Musim panas yang panjang telah berakhir, dedaunan di pucuk pohon mulai menjingga sebelum akhirnya kering dan berguguran ke tanah. Udara terasa kering dan panas, debu-debu terbang tertiup angin musim gugur sehingga anak-anak keluar dengan masker menutupi sebagian wajah mereka—mulut dan hidung.

Yoora berlari-lari kecil mendekati gerbang sekolah. Sejak peristiwa hilangnya Yoogeun, selama dua minggu terakhir, Yoora mengambil sendiri tugas menjemput Yoogeun di sekolah. Bukan ia tak percaya pada Key atau jasa bus antar-jemput yang ditawarkan oleh pihak sekolah, wanita itu hanya merasa lebih tenang jika melakukannya seorang diri. Biasanya ia tak pernah terlambat, namun hari ini, pekerjaan membersihkan rumah memakan waktu lebih lama. Yoora juga harus membereskan pekarangan kecil di depan rumahnya yang berantakan karena daun-daun gugur.

“Yoogeun-ah!” seru Yoora ketika mendapati sosok Yoogeun telah berdiri dekat gerbang sekolahnya. Ia sedikit mengernyit bingung ketika mendapati ada seorang wanita berdiri memunggunginya dan sedang bercakap-cakap dengan putranya.

Eomma!” Yoogeun menjawab panggilan Yoora penuh semangat dengan wajah yang berseri. Kemudian ia kembali berbicara kepada wanita paruh baya yang bersamanya—seraya mengarahkan telunjuknya kepada Yoora.

Langkah Yoora melambat ketika hampir tiba di dekat Yoogeun. Wanita yang bersama Yoogeun berbalik dan Yoora langsung merasa familiar dengan wajah wanita itu. Kerutan-kerutan halus menghiasi sekitar garis matanya—sebagai tanda wajah cantiknya telah larut dalam usia—namun Yoora tetap mengenali wanita di hadapannya.

Eo… Eommonim?”

Wanita itu tersenyum lembut ke arah Yoora, “Lama tidak bertemu, Yoora-ya.”

Yoora menundukkan kepalanya sopan sebagai tanda hormat. Wanita yang kini berdiri di hadapannya adalah ibu dari lelaki yang pernah dicintainya, Minho. Setidaknya, itulah yang terjadi lima tahun lalu ketika ia masih berstatus sebagai kekasih Minho. Meski Yoora menyembunyikan hubungannya dengan Minho dari kedua orang tuanya, namun tidak demikian halnya dengan Minho. Sudah beberapa kali Minho mengajaknya bertemu dengan Nyonya Choi, sekedar makan siang atau pergi berbelanja bersama. Oleh karena itulah, Yoora tetap menaruh hormat pada Nyonya Choi meski kini statusnya tak lagi sama.

“Apa kedatanganku membuatmu terkejut?” tanya Nyonya Choi.

Ah, ne. Sedikit,” aku Yoora. “Annyeonghaseo, Eommonim?”

Nyonya Choi mengajak Yoora untuk berbincang sejenak di sebuah taman tak jauh dari sekolah Yoogeun. Yoora sedikit enggan, namun akhirnya menyetujui. Setidaknya, ia tak ingin merusak hubungan baik dengan Nyonya Choi, meski hubungannya dengan Minho telah berakhir.

“Bagaimana kabarmu, Yoora-ya?” Nyonya Choi membuka pembicaraan setelah mereka duduk di kursi taman yang siang itu tak terlalu ramai dengan anak-anak sebaya Yoogeun.

Yoora tersenyum menanggapi pertanyaan Nyonya Choi. Apa yang harus dikatakannya? Jawaban baik-baik saja nampak klise—seperti kebohongan yang ditutupi. Lagipula, Yoora tak yakin apakah kabar yang ditanyakan Nyonya Choi dimaksudkan untuk menanyakan keadaannya hari ini atau keadaannya lima tahun lalu saat Minho meninggalkannya.

“Pasti berat mengurus Yoogeun seorang diri,” imbuh Nyonya Choi hanya selang sedetik dari pertanyaan yang belum Yoora jawab.

“Tidak terlalu, Eommonim,” jawab Yoora seraya menatap Yoogeun yang tengah asyik bermain ayunan di tengah taman, “Yoogeun anak yang pandai dan penurut.”

Nyonya Choi tersenyum mendengar jawaban Yoora. “Ne, aku juga melihatnya seperti itu. Meski hanya beberapa kali bertemu dengannya… Ah, kau tidak marah bukan jika aku telah beberapa kali menemui Yoogeun diam-diam? Aku yang memintanya merahasiakan hal ini darimu,” aku Nyonya Choi.

Mulanya Yoora terkejut dan hal itu jelas terpancar dari mimik wajahnya, lalu ia mulai menenangkan diri mendengar penuturan Nyonya Choi dan menanggapi dengan senyuman, “Ne, tidak apa-apa. Kurasa Yoogeun juga menyukai Eommonim, makanya ia menurut padamu dan tidak mengatakan apa pun padaku.”

Selama beberapa menit setelahnya, percakapan antara Yoora dan Nyonya Choi hanya sekadar basa-basi, kemudian mereka bertukar cerita ringan tentang keseharian yang mereka jalani sebagai wanita serta beberapa informasi mengenai cara menangani masalah anak-anak seusia Yoogeun. Nyonya Choi banyak mengajari hal-hal menarik dari berbagai pengalamannya dahulu dan Yoora menyimak setiap perkataan Nyonya Choi dengan seksama.

Barulah ketika keduanya hampir kehabisan kata-kata, Nyonya Choi mulai mengatakan hal yang sesungguhnya meresahkan dirinya selama ini. “Kau sudah bertemu dengan Minho kembali, eoh?”

Yoora menahan nafas ketika nama Minho disebutkan. Bukan ia tak menduga sebelumnya bahwa topik pembicaraan pasti akan beralih pada pria itu, namun tetap saja mendengar langsung membuat perasaannya bergejolak.

Ne.” Yoora mengangguk pelan.

“Minho… dia yang bercerita padaku bahwa telah berhasil menemukanmu,” kata Nyonya Choi melanjutkan pembicaraan yang sesungguhnya ingin Yoora hindari.

Mata Yoora perlahan bergerak melirik wanita yang duduk di sampingnya. Ia hanya diam dan menunggu Nyonya Choi melanjutkan kata-katanya.

“Yoora-ya, sesungguhnya lima tahun lalu, Minho tak bermaksud meninggalkanmu yang tengah mengandung.”

Kali ini pandangan Yoora benar-benar menatap lekat Nyonya Choi. Dalam hati ia bertanya-tanya maksud perkataan Nyonya Choi, namun tak ada kata-kata keluar dari tenggorokannya.

“Suamiku, ayah Minho-lah, yang menentang keinginan Minho untuk menikahimu. Lima tahun lalu, Minho bertengkar dengan suamiku karena ia bersikeras melamarmu. Sayangnya, suamiku terlalu keras kepala, terlebih setelah anak tertua kami, kakak Minho, kabur dari rumah untuk menentangnya… Minho adalah satu-satunya harapan terbesar suamiku yang dapat meneruskan jejaknya sebagai seorang dokter,” tutur Nyonya Choi. Pandangannya seperti kembali pada masa-masa lima tahun lalu, ketika ia menyaksikan sendiri pertengkaran besar yang terjadi antara Minho dan Tuan Choi.

“La… lalu?” tanya Yoora ketika Nyonya Choi hanya terdiam setelah memperdengarkan sepenggal cerita yang telah berlalu. Sesungguhnya Yoora ragu untuk kembali mendengar kelanjutan cerita itu karena pada akhirnya kenyataan tetap tak berubah—Minho meninggalkannya.

“Minho pergi dari rumah diliputi amarah. Selang beberapa jam kemudian, kami menerima telepon dari rumah sakit bahwa Minho mengalami kecelakaan.”

‘Kecelakaan?’ Yoora mengulang kata yang baru ia cerna dalam batinnya.

Nyonya Choi mengangguk. “Itulah alasan mengapa ia meninggalkanmu. Akibat kecelakaan itu, Minho mengalami amnesia parsial. Ia melupakan banyak hal… termasuk dirimu.”

Yoora mengigit bibirnya hingga terasa perih. ‘Minho… melupakanku?’

“Suamiku kemudian mengirim Minho ke Amerika, untuk berobat sekaligus meneruskan pendidikannya. Aku tahu seharusnya aku menentangnya. Namun aku tak bisa. Aku memikirkan tentangmu, tapi juga tentang keinginan suamiku. Maafkan aku, Yoora-ya.” Nyonya Choi menundukkan kepalanya sebagai tanda penyesalan.

Yoora mengalihkan pandangan untuk mendapatkan sedikit ruang untuk bernafas. Batinnya seperti terhimpit sesuatu yang berat dan menyesakkan. Penuturan Nyonya Choi sungguh tak pernah ia duga atau pikirkan sebelumnya. Tentang Minho, tentang kecelakaan, dan ingatan tentangnya yang hilang. Apa maksud semua ini?

Gwenchana-yo?” tanya Nyonya Choi ketika menyadari Yoora yang agak tertunduk dan terengah. Jemarinya menyentuh bahu Yoora lembut.

Ne, Eommonim,” jawab Yoora lirih. “Hanya saja, aku tak pernah tahu sebelumnya…”

“Bukan salahmu, Yoora-ya,” ucap Nyonya Choi menenangkan Yoora lalu kembali bercerita, “Setahun yang lalu, ingatan Minho telah kembali dan hal pertama yang ditanyakannya adalah tentangmu. Ia marah, ia bahkan memaksa untuk kembali ke Korea dan meninggalkan studinya. Suamiku mencoba menahannya dengan berjanji akan mencarimu. Kami… berhasil menemukanmu. Tapi saat itu kami melihatmu bersama seorang pria. Aku dan suamiku menduga, kau telah menikah dengan pria lain.”

Yoora menatap mata Nyonya Choi dan tahu bahwa wanita itu berkata jujur. “Aku tidak menikah.”

“Aku tahu,” imbuh Nyonya Choi, “tapi saat itu, kami tidak tahu. Akhirnya kami memutuskan menyembunyikan keberadaanmu dari Minho karena kami tak ingin ia terluka. Hingga ia lulus dan meraih gelar dokternya. Ia memutuskan kembali ke Korea untuk mencarimu sendiri. Dan selanjutnya, kukira kau sudah mengetahui apa yang terjadi ketika akhirnya kalian bertemu kembali.”

Yoora mengangguk. Ia tak tahu mengapa perasaannya saat ini begitu sakit. Nafasnya sesak dan matanya terasa panas seperti ingin menangis hingga meraung-raung, namun tak ada setetes pun air mata yang keluar. Sungguhkah selama ini ia telah salah mengira Minho telah meninggalkannya? Karena pada kenyataan, ketika ia memupuk sedikit demi sedikit amarah dan kebenciannya pada Minho, pria itu justru berjuang untuk mengingatnya kembali.

Eommonim,” panggil Yoora, “aku sungguh tak tahu bagaimana harus menghadapi semua ini. Semuanya sungguh membingungkan.”

Nyonya Choi memeluk tubuh Yoora, mengelus punggung Yoora lembut, “Gwenchana, gwenchana, aku tahu semua ini akan sangat berat bagimu. Dengan apa yang telah terjadi, aku tak akan memaksamu kembali pada anakku. Kau bebas mengambil keputusan sendiri dan aku akan mendukungmu.”

Yoora mengangguk pelan. Nyonya Choi perlahan melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut lalu menaikkan dagu Yoora agar memandangnya. “Kau telah menghadapi semuanya seorang diri selama ini, kau gadis yang kuat, Yoora-ya. Aku yakin setelah ini kebahagiaan akan menghampirimu karena kau layak mendapatkannya.”

Kebahagiaan? Yoora mengiangkan kata itu dalam pikiran dan batinnya. Mungkinkah sesuatu yang bernama kebahagiaan itu akan datang menghampirinya ketika semuanya terasa begitu rumit hingga ia sendiri tak tahu ke arah mana ia harus melangkah?

***

Pikiran akan keadaan Minho yang baru diketahui Yoora terus membayangi kepalanya sepanjang hari itu; ketika ia membersihkan rumah, menyiapkan makan malam, bahkan ketika akhirnya Key datang berkunjung seperti malam-malam biasanya. Bertiga—Yoora, Key, dan Yoogeun—duduk bersama menikmati makan malam, namun hanya Yoora yang nampaknya hanya menatap gusar piringnya dan mencoba memasukkan makanan ke mulutnya tanpa semangat.

Key bukan tidak memperhatikan tingkah Yoora yang tampak ganjil, namun ia memilih diam dan mencoba mengajak Yoogeun mengobrol tentang sekolahnya, tentang teman-temannya, dan tentang apa yang dikerjakan bocah itu seharian—pikirnya, itu akan mengalihkan perhatian Yoogeun sehingga bocah itu tak menatap cemas pada Yoora yang tampak lesu dan kedapatan sering melamun.

Malam semakin larut setelah waktu makan malam mereka berakhir dan Yoogeun menghabiskan waktu membaca buku cerita Pororo bersama Key. Melihat Yoora nampak masih bergelut dengan pikirannya, Key mengambil alih pekerjaan wanita itu untuk menidurkan Yoogeun di kamarnya.

Eomma selalu memberiku kecupan sebelum tidur,” kata Yoogeun sewaktu Key menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Malam ini, Appa yang akan memberikan kecupan selamat malam untukmu,” ujar Key menanggapi perkataan Yoogeun. Ia mencondongkan tubuhnya dan mengecup lembut dahi Yoogeun. Ditepuk-tepuknya perlahan tubuh Yoogeun yang terbalut selimut hingga bocah kecil itu terlelap.

Key beranjak perlahan dari sisi Yoogeun. Ia melangkah keluar dan mendapati Yoora terduduk di atas sofa sembari memeluk bantal. Matanya menatap ke layar televisi, namun pandangannya nampak kosong.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Key ketika menghampiri Yoora dan duduk di sebelah wanita itu.

Yoora sedikit terkejut dengan kehadiran Key yang membuyarkan lamunannya. “Yoogeun sudah tidur?”

Key mengangguk menjawab pertanyaan Yoora. “Mau kubuatkan susu hangat?” tawarnya.

“Tidak perlu, Key,” jawab Yoora sembari tersenyum simpul—yang menurut pandangan Key sedikit dipaksakan.

“Ingin bercerita?” Key mencoba membujuk Yoora untuk berbagi masalah yang meresahkan hatinya. Bukankah itulah yang selalu dilakukannya selama lima tahun terakhir? Selalu menemani Yoora, termasuk pada hari-hari ketika ia mendapati hal-hal yang mengganggu pikirannya. Key akan mendengarkan keluh-kesah yang dilontarkan wanita itu, kemudian berusaha memberikan ketenangan yang dibutuhkan oleh Yoora.

Yoora menarik nafas panjang. Dipelintirnya ujung bantal yang berada di tangannya. “Kau mungkin tak akan suka mendengarnya.”

“Tak masalah,” ujar Key, “apa karena ada kaitannya denganku?”

Yoora menggeleng, namun kemudian mengigit bibir bawahnya ketika berpikir ulang. “Tapi mungkin juga berhubungan.”

“Tentang Minho?” tanya Key menduga-duga karena ia merasa tak ada hal lain yang dapat membuat Yoora bimbang seperti saat ini sebelum pria itu kembali datang.

Yoora mengangguk, kemudian ia memandang Key sekilas sebelum mengalihkan pandang dari pria itu. “Tadi siang, aku bertemu dengan Choi Eommonim.”

Key menelan ludahnya. Kerongkongannya sedikit tercekat mendengar penuturan Yoora. Ia membenarkan posisi duduknya, berdampingan dengan Yoora—sama-sama memandang televisi namun tak memperhatikan dengan jelas apa yang ditayangkan di dalamnya.

“Dia menceritakan apa yang terjadi pada Minho lima tahun lalu. Katanya, Minho bukan meninggalkanku, melainkan…,” ucapan Yoora tergantung dan ia mendesah pelan sebelum melanjutkan perkataannya, “…ia mengalami kecelakaan yang membuatnya melupakanku.”

Mata Key melirik Yoora, sedang jantungnya berdebar cepat. “Dia… amnesia?”

Yoora mengangguk pelan, “Ia tak ingat apa pun tentangku, karena itulah ia pergi.”

“Jadi, kecelakaan itu membuatnya amnesia?” Nafas Key tercekat. Pertanyaan yang ada dalam benaknya kini terjawab. Ia tak pernah mengerti mengapa Minho meninggalkan Yoora lima tahun lalu, namun kini semuanya telah jelas.

“Key…,” kata Yoora mendengar gumaman pria itu, “…kau tidak tahu-menahu soal ini sebelumnya, eoh?”

Manik mata Key dan Yoora bertemu, namun Key tak bisa memandang ke dalamnya terlalu lama. Dialihkan pandangannya ke sembarang arah ketika perasaan bersalah menyusup masuk ke dalam batinnya.

“Kau… tahu?” tanya Yoora seolah Key menjawabnya dalam kebisuan. “Jadi kau sudah tahu semuanya?”

Key menarik nafas panjang sehingga udara memenuhi seluruh paru-parunya, dikepalkan tangan kanannya kuat-kuat, “Mianhae, Yoora-ya.”

“Kau tahu!” sahut Yoora. “Dan kau menyembunyikannya dariku?”

“Yoora, dengarkan a…”

“Kau tahu bagaimana aku berharap ia kembali datang padaku lima tahun lalu. Kau juga tahu bagaimana aku terluka ketika penantianku hanya sebuah kesia-siaan!”

“Dengarkan… aku, Yoora-ya.” Key mencoba memberikan penjelasan, namun Yoora telah terlanjur diliputi amarah.

“Kau tahu semua yang kualami, kurasakan, namun kau malah membiarkanku membencinya hari demi hari selama lima tahun?” Air mata mengalir di kedua belah pipi Yoora. Tubuhnya bergetar karena terisak keras. Tangisan yang tertahan sejak ia mendengar semua kenyataan yang terjadi lima tahun lalu, kini membuatnya tak mampu lagi menahan semua perasaannya. Perih. Sesak. Seperti dihujam bebatuan tajam yang menggores dagingnya.

Key menarik tubuh Yoora ke dalam pelukannya, tetapi wanita itu berontak sehingga Key harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat Yoora tetap berada dalam pelukannya ketika ia mencoba mengambil kesempatan untuk bicara. “Aku salah! Aku tahu Minho mengalami kecelakaan dan aku menutupinya darimu, tapi aku tak tahu ingatannya hilang! Kumohon percayalah padaku, Yoora-ya!”

Yoora berhenti berusaha melepaskan diri. Ia menangis keras. Air matanya terus mengalir hingga membasahi kemeja Key, akan tetapi ia tak kunjung berhenti menangis.

Mianhae, Yoora-ya. Jeongmal, mianhae,” ucap Key dengan suara serak. Pria itu berusaha menahan kepedihan yang hampir membuatnya juga ingin menangis jika membayangkan wanita yang kini dipeluknya akan membencinya dan menghancurkan seluruh perasaannya. “Aku mencintaimu, kumohon maafkanlah aku.”

Dalam pelukan Key, Yoora memejamkan matanya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ia harus kembali kepada Minho, pria yang pernah dicintainya lima tahun lalu dan mungkin masih dicintainya hingga kini—yang juga berarti ia harus mematahkan hati Key yang selama ini terus berada di sisinya? Haruskah ia bertindak seegois itu?

Apa yang dialaminya selama lima tahun terakhir telah mengubahnya dari seorang remaja dengan jiwa yang ceroboh menjadi seorang wanita yang lebih dewasa dan bijak. Ia lebih pemikir, lebih berhati-hati dalam bersikap dan mengambil langkah.

Dulu—lima tahun lalu—ia telah sangat gegabah ketika menyerahkan dirinya ke dalam pelukan lelaki yang dicintainya. Andai ia tak semudah itu jatuh dalam buaian asmara, semua masalah yang harus ia hadapi takkan pernah ada dan mungkin ia kini telah berbahagia dengan pria yang dicintainya itu. Namun, siapa yang dapat memutar kembali waktu?

Jadi, ketika semuanya terlanjur terjadi dan tak mungkin melangkah mundur kembali ke titik awal, Yoora harus memantapkan diri untuk mengambil keputusan. Lima tahun lalu, takdir memang mempermainkan dua orang kekasih yang saling mencintai dan barangkali itu adalah sebuah pertanda bahwa mereka tak ditakdirkan bersatu.

“Kau mau memaafkanku, Yoora-ya? Jaebal,” ucap Key untuk kesekian kalinya. Tak henti-henti kata maaf terlontar dari bibirnya.

Yoora sadar Key tidak sepenuhnya dapat disalahkan atas banyak hal yang terjadi pada dirinya. Ia hanya mengambil sedikit bagian kecil dan harusnya termaafkan jika mengingat bagaimana pria itu terus menemani Yoora melalui hari-hari sulitnya. Perasaan Key pada Yoora begitu tulus—dan Yoora paham benar akan hal itu.

Perlahan Yoora mengangguk dan balas melingkarkan tangannya di pinggang Key.

Gomawo, Yoora-yagomawo,” ucap Key yang diiringi setetes air mata yang terjatuh dan meresap ke serat pakaian Yoora. Ia tak bermaksud menangis, tetapi perasaan lega yang menyelimutinya membuat air mata itu terjatuh begitu saja. Hanya setetes—hanya karena rasa takut akan kehilangan wanita inilah ia meneteskan air matanya.

***

Minho melangkah keluar dari ruang gawat darurat. Ia berjalan perlahan menghampiri seorang pria yang berdiri dekat pintu—menunggu dengan harap-harap cemas.

Euisa!” Pria itu mendapati Minho dalam sekali langkah, dengan kuat dicengkramnya lengan Minho yang terbalut jas putih.

“Tuan Lee, kami telah berusaha,” kata Minho mulai menjelaskan dengan hati-hati kabar yang harus diberitahukannya pada pria bermarga Lee itu, “namun putri anda tak berhasil di selamatkan. Putri anda barusaja meninggal akibat fibrilasi ventrikel dan penurunan tekanan darah yang menyebabkan anoksia otak. Kami turut berduka cita.”

ANDWAE!” Tuan Lee menjerit keras. Kepalanya menggeleng dan matanya menatap Minho seolah bertanya apa yang barusaja dipaparkan Minho tidaklah hal yang sungguh terjadi pada putrinya.

Mianhamnida,” ucap Minho sembari memberikan penghormatan terakhir dengan menundukkan kepalanya ke arah Tuan Lee. Minho hendak melangkah pergi, namun tangan Tuan Lee tak kunjung melepaskan lengannya.

“Tidak mungkin putriku meninggal!” Tuan Lee masih histeris. “Ia putriku satu-satunya. Hanya dia yang kumiliki setelah istriku meninggal setahun lalu. Katakan… katakan putriku masih hidup, ia baik-baik saja. Ia tak mungkin mati!”

Minho hanya bergeming menanggapi perkataan Tuan Lee. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan putri Tuan Lee. Ketika tubuh gadis kecil itu dibawa ke hadapannya, gadis itu sudah meregang nyawa. Kulitnya sudah pucat dan tubuhnya penuh dengan lebam. Terdapat buih putih halus pada hidung dan mulutnya. Paru-parunya telah bengkak karena kemasukan air. Saluran pencernaan dan pernafasannya penuh dengan lumpur. Putri Tuan Lee meninggal karena tenggelam dan terlambat untuk diselamatkan.

Dua orang suster yang berada di sisi Minho mencoba menenangkan Tuan Lee. Mereka menopang tubuh Tuan Lee yang terhuyung dan hampir terjengkang ke belakang. Minho sekali lagi menundukkan kepalanya sebagai tanda turut berduka cita, lalu berjalan pergi dengan langkah berat.

Bukan pertama kalinya Minho melihat seorang manusia meregang nyawa di hadapannya. Namun, baru kali ini seorang anak perempuan kecil, berusia lima tahun, meninggal di tangannya. Ia seorang ayah yang juga memiliki anak lelaki seusia gadis kecil itu. Maka terlepas dari profesi dokter yang disandangnya, ia turut merasakan kesedihan yang dialami Tuan Lee.

Minho masuk ke dalam ruang prakteknya dan langsung disambut oleh seorang bocah laki-laki yang saat ini sedang dipikirkannya.

APPA!”

Senyum merekah di wajah Minho. Kegundahan yang ia rasanya beberapa saat lalu lenyap seketika. Ia melihat Yoogeun berlari ke arahnya dan menyambutnya dengan tangan terbentang lebar. Direngkuhnya tubuh mungil Yoogeun ke dalam dekapan dan diangkatnya tubuh bocah itu.

“Yoogeun-ie… kau datang?” tanya Minho gemas sembari mengecup pipi kanan Yoogeun.

Yoogeun mengangguk bersemangat. Minho menggoyangkan tubuh Yoogeun dalam gendongannya lalu berputar sekali. “Appa merindukanmu, Yoogeun-ie.”

Naddo. Aku juga merindukan, Appa,” ujar bocah itu.

Minho melayangkan pandangan ke mejanya. Dilihatnya Yoora duduk di salah satu kursi—menatapnya yang bercengkrama dengan Yoogeun.

“Yoora-ya,” panggil Minho.

“Yoogeun yang memaksa ingin datang,” ucap Yoora seolah dapat menerka apa yang ingin ditanyakan Minho. Semenjak mengetahui kenyataan yang terjadi pada Minho lima tahun lalu, Yoora memutuskan untuk berhenti membenci pria itu. Ia juga tidak keberatan jika Minho ingin betemu dengan Yoogeun. Bahkan ia membiarkan Yoogeun memanggil Minho dengan sebutan yang seharusnya—Appa. Akan tetapi, hanya sebatas itu yang bisa ia berikan pada Minho. Meski jauh dilubuk hatinya ia masih memendam perasaan yang sama dengan perasaan yang dimilikinya dahulu, namun ia tak ingin kembali merajut benang-benang asmara dengan Minho. Ia telah memutuskan untuk berada di sisi Key.

“Yoogeun-ie, kau mau makan es krim?” tanya Minho sembari mencubit pelan pipi tembam Yoogeun.

“MAU!” jawab Yoogeun penuh semangat dan senyum lebar memamerkan deretan gigi-gigi mungilnya.

“Kalau begitu, ayo makan es krim!” Minho ikut tersenyum lebar.

Diam-diam Yoora memperhatikan kemiripkan keduanya. Senyum yang sama dan mata besar yang sama. Begitu banyak persamaan antara Minho dan Yoogeun. Mungkinkah semua kemiripan itulah yang membuat Yoora tak pernah benar-benar dapat menepis bayangan Minho dari benaknya? Karena setiap kali ia menatap wajah Yoogeun—bagaimana matanya berbinar dan bagaimana caranya tersenyum—ia seakan sedang menatap wajah Minho.

Eomma diajak, eoh?” tanya Minho kepada Yoogeun. “Eomma mau makan es krim juga tidak?”

Yoora tertegun saat mata Minho kini beralih menatapnya dan pandangan mereka beradu. Dirasanya dadanya bergemuruh.

Ne,” jawab Yoora singkat lalu menyibukkan diri dengan membetulkan letak tas yang dibawanya. Ia lalu berdiri dari kursi dan berjalan mengekor Minho yang masih menggendong Yoogeun.

Minho berhenti di depan pintu, membukakan daun pintu itu dan menunggu Yoora melangkah keluar lebih dulu. Minho terus mengobrol dengan Yoogeun sepanjang koridor rumah sakit, juga saat berada dalam lift. Beberapa kali Yoogeun dan Minho saling berbisik sehingga Yoora tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Yoora sedikit merasa penasaran, namun ia tetap diam. Masih terasa sulit baginya untuk kembali bersikap wajar pada Minho sekalipun kini tak ada lagi rasa dendam atau amarah yang tersisa.

Di salah satu kursi kayu yang berada di taman rumah sakit, Minho dan Yoora duduk berdampingan dan Yoogeun berada di antara mereka. Yoora menatap cup es krim coklat-stroberi yang dipegangnya. Ia merasa canggung. Waktu sudah berlalu terlampau lama sejak kali terakhir ia duduk bersebelahan dengan Minho dan menikmati es krim bersama.

Yoogeun menjilati es krim cone rasa coklatnya dan Minho yang tak membeli es krim apa pun untuk dirinya mencoba menggoda bocah itu, “Appa ingin mencoba es krim Yoogeun-ie.”

Yoora melirik Minho yang tengah mencondongkan badan ke arah Yoogeun dengan mulut yang terbuka. Yoogeun masih menjilati es krimnya, namun Minho tetap mendekat ke arah es krim di tangan bocah itu dan ikut menjilat sisi sebaliknya sehingga wajah keduanya menjadi sangat dekat.

Yaa!” Yoora berseru karena kaget. Minho mendongak dan melihat ke arahnya dengan heran. “Uhm… jangan seperti itu.”

“Seperti apa?” tanya Minho heran, ia masih belum menarik diri dari sisi Yoogeun.

“Menjilat es krim berdekatan begitu,” ucap Yoora dengan gugup. Ia sendiri tak tahu mengapa ia tadi berteriak menyaksikan kedekatan Minho dan Yoogeun. Jika dipikir ulang, tak ada hal yang aneh dan Yoora menyesal telah terlanjur berteriak.

Hmmpphh.” Minho terkekeh sembari menarik tubuhnya menjauh dari Yoogeun. Kini ia duduk menghadap Yoora. “Kau ingat, dulu kau juga berteriak seperti itu saat aku menjilat es krim milikmu?”

Pipi Yoora memerah dan terasa hangat. Sekelebat bayangan muncul dalam pikirannya. Kala itu ia masih mengenakan seragam sekolahnya dan duduk di taman berdampingan dengan Minho. Sama seperti hari ini, pria itu juga tak membeli es krim untuk dirinya sendiri. Lalu secara tiba-tiba, Minho mendekat dan menjilat es krim milik Yoora sehingga membuatnya terkejut karena wajah Minho yang berada terlampau dekat dengan wajahnya.

“Yoora-ya,” panggil Minho lembut seperti sapuan angin yang berbisik pada dedaunan kering musim gugur, “mungkinkah kita bisa kembali ke masa-masa itu?”

Yoora menatap Minho yang juga tengah menatap lekat ke arahnya. Binar mata Minho begitu teduh dan memberikan kehangatan hingga ke sekujur tubuhnya ketika pandangan mereka beradu. Untuk sekejap saja, Yoora merasa waktu berputar mundur dan ia kembali menjadi gadis remaja sembilan belas tahun yang sedang jatuh cinta.

Bila mungkin… andai roda waktu memang dapat berputar ulang. Ikatan antara dirinya dan Minho yang sempat terputus, mungkinkah dapat dirajut ulang?

Eomma.” Yoogeun menarik salah satu lengan Yoora yang berada di dekatnya. Es krim di tangannya mulai mencair dan meleleh mengotori telapak tangannya—hampir menetes ke pakaiannya.

Yoora tersentak. Ia segera merogoh tas untuk mengambil tissue, tetapi Minho telah lebih dahulu mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan es krim di tangan Yoogeun.

“Ayo, cepat dihabiskan sebelum meleleh,” ujar Minho sembari mengelus puncak kepala Yoogeun. “Appa juga harus kembali bekerja sehabis ini.”

“Apa aku boleh menunggu Appa pulang kerja?” tanya Yoogeun penuh harap.

Minho tersenyum dan mencubit pelan pipi Yoogeun, “Tentu saja boleh, tapi jangan berisik di rumah sakit, eoh? Kau tunggu Appa di sini saja bersama Eomma, arrachi?”

Yoogeun mengangguk girang. Minho lalu undur diri setelah tersenyum ke arah Yoora—menyisakan detak-detak jantung yang terdengar aneh dari dalam dada Yoora ketika menatap punggung pria itu berlalu pergi.

***

“Yoogeun?” Yoora memanggil nama anak lelaki yang baru ditinggalkannya ke toilet. “Yoogeun-ah?”

Kursi taman tempat Yoogeun duduk menunggunya telah kosong. Dahi Yoora berkerut ketika tak ada jawaban didapatinya ketika berulang kali memanggil nama anaknya.

“Yoogeun?!” Yoora mulai meninggikan suaranya. Ia tampak gusar. Dicarinya Yoogeun ke seluruh penjuru taman, namun sosok kecil itu tak juga tertangkap penglihatannya.

Yoora berlari menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan Minho. Seorang suster mencoba menahannya ketika hendak membuka pintu, namun Yoora menepis tangan suster itu.

“Minho!” Dengan nafas terengah sehabis berlari, Yoora melangkah ke arah pria yang sedang berkutat dengan map-map berisi data pasien. “Yoogeun-ah, apa dia ada di sini?”

Minho mengernyit bingung lalu menggeleng. “Bukankah ia bersamamu, di taman?”

“Dia tak ada. Aku pergi ke toilet sebentar, namun begitu aku kembali, ia tidak ada,”  papar Yoora dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan dari tutur katanya.

“Kita cari dia,” ujar Minho dengan segera meletakkan semua map di tangannya dan beranjak dari mejanya. Ia mengaitkan tangan di pinggang Yoora untuk mendorong wanita itu agar keluar bersamanya. Minho meninggalkan pesan kepada suster yang berjaga dekat ruangannya, lalu kembali mendapati Yoora. “Kita coba cari lagi di taman, otte?”

Namun Yoogeun tak kunjung ditemukan. Di taman, di kantin rumah sakit, atau toilet. Anak itu hilang. Yoora semakin kalut dan mulai membayangkan hal-hal buruk. Ia pernah sekali kehilangan anak itu ketika Yoogeun pergi mencari Minho, kini ia kembali merasakan hal yang sama—bahkan ia merasa jauh lebih khawatir kali ini.

Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam mencari Yoogeun, Minho mengajak Yoora kembali ke ruangannya. Mungkin saja Yoogeun datang ke ruangannya untuk menemui Minho.

Euisa, ada telepon untuk anda,” kata seorang suster tepat saat Minho melewati meja informasi tempat suster berjaga. Minho bertukar pandang dengan Yoora sejenak, lalu beranjak dari sisi gadis itu untuk menerima telepon.

“Selamat sore, Choi Euisa…,” sapa seorang pria dengan suara serak di seberang telepon.

Nugu-ya?” tanya Minho bingung. Perasaannya tiba-tiba terasa tidak tenang seolah pria yang meneleponnya ada sangkut pautnya dengan hilangnya Yoogeun.

“Mencari seorang anak lelaki? Apakah anak lelaki itu adalah putramu?”

Yaa, siapa kau?!”

Yoora tersentak mendengar Minho membentak lawan bicaranya dengan suara tinggi. Ia melangkah ke dekat Minho dan menatap pria itu penuh tanya.

“Aku ingin tahu, apa yang kira-kira mampu kau lakukan jika putramu yang satu-satunya juga bernasib sama seperti putriku.”

Dahi Minho berkedut dan sepertinya ia dapat menebak lelaki yang berada di seberang telepon sana, “Tuan Lee? Tuan Lee, apa kau bersama dengan Yoogeun sekarang? Tuan Lee dengarkan aku, kumohon jangan lakukan apa pun pada anakku.”

Tangan Yoora mencengkram bahu Minho dan pria itu seketika menoleh ke arahnya. Raut kecemasan jelas terpancar dari wajah Yoora. Dengan tangannya yang bebas, Minho merengkuh bahu Yoora agar mendekat ke arahnya—berharap itu dapat memberikan sedikit ketenangan pada wanita itu.

“Sungai Han, di atas jembatan,” ucap Tuan Lee memberitahukan lokasinya berada, “datanglah ke sini, Euisa. Aku akan menunggumu untuk menyaksikan sendiri bagaimana bocah kecil ini tenggelam ke dasar sungai.”

Telepon terputus. Minho menahan nafasnya. Yoora di sisinya menatap cemas.

“Apa yang terjadi pada Yoogeun? Dia di mana?” tanya Yoora selepas Minho meletakkan kembali gagang telepon.

“Seorang keluarga pasien yang kutangani tadi siang menculik Yoogeun,” jawab Minho. “Putrinya meninggal karena tenggelam dan ia nampaknya ingin membalas dendam padaku.”

ANDWAE!” Teriakan Yoora membuat gendang telinga Minho berdengung.

“Tenanglah, Yoora,” ujar Minho ditengah kecemasan yang juga menyelimutinya. “Kita harus bergegas.”

Minho meninggalkan pesan kepada suster untuk menelepon polisi dan memberitahu posisinya. Ia menuntun Yoora hingga ke lobby rumah sakit saat keduanya berpapasan dengan Key yang barusaja tiba untuk menjemput Yoora dan Yoogeun.

“Yoora-ya.” Langkah Key yang lebar langsung mendapati gadis itu dengan segera. Ia merasa sedikit ganjil melihat Minho merengkuh pinggang Yoora dan tampak seperti menopang tubuh wanita itu ketika berjalan. “Gwenchana? Kau sakit?”

Yoora menatap Key lalu menggeleng, “Yoogeun…”

“Ada apa dengan Yoogeun?”

Minho menumpangkan tangannya di atas bahu Key. “Biar kujelaskan nanti, sekarang lebih baik kita bergegas sebelum terlambat.”

Key yang tak memahami apa yang sedang terjadi hanya menuruti perkataan Minho. Ia berniat mengambil alih posisi Minho untuk menuntun Yoora, namun pria itu lebih dahulu berjalan meninggalkannya ke arah pintu lobby. Key akhirnya hanya mengikuti dalam diam sembari memandang kesal ke arah tangan Minho yang melingkar di pinggang Yoora.

Minho melajukan mobilnya ke lokasi yang disebutkan Tuan Lee. Sepanjang perjalanan, Minho mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Key. Kecemasan Yoora semakin menjadi ketika mendengar sendiri penuturan Minho dengan lebih gamblang. Ia tak berhenti meremas-remas tangannya—terkadang menempatkan tangannya di bawah dagu sembari mengigit ujung kukunya.

Mereka bertiga tiba di jembatan yang dikatakan Tuan Lee. Di atas sana telah menunggu Tuan Lee bersama dengan Yoogeun dalam dekapannya.

“Rupanya kau datang tidak sendirian, Euisa.” Tuan Lee nampak tidak menyukai kehadiran dua orang lain bersama Minho.

“Aku sudah datang, sekarang lepaskan anakku,” ujar Minho mencoba menyembunyikan kegentaran dari suaranya.

Appa!” Yoogeun berteriak melihat Minho datang menghampirinya.

“Aku tak pernah berkata akan melepaskan anak ini,” sahut Tuan Lee sembari menekan kedua pipi Yoogeun yang tampak ketakutan agar anak itu diam.

“Kalau kau menyimpan dendam padaku, maka lakukan apa yang kau inginkan kepadaku!”

Tuan Lee menyeringai. “Aku sedang melakukannya, Euisha yang terhormat. Membuatmu merasakan apa yang kurasakan. Kehilangan anak yang kau cintai.”

“Kumohon!” Yoora melangkah maju dari sisi Minho, “Jangan sakiti dia.”

Hahahaha!!” Suara tawa Tuan Lee membelah senyapnya langit yang telah menjadi gelap karena malam telah menggantikan posisi matahari. “Percuma kalian memohon! Aku takkan melepaskan anak ini! Tidak! Tidak akan!!”

Tuan Lee melangkah lebih dekat ke tepi jembatan. Tubuh Yoora menegang. Minho ikut melangkah maju sembari mencari celah untuk merebut Yoogeun dari tangan Tuan Lee.

Euisa, kau harus merasakan bagaimana hatiku sakit melihat putriku tenggelam dan bagaimana dadaku terasa sesak ketika melihatnya berhenti bernafas.”

Key yang daritadi hanya diam mengawasi, berjalan sedikit ke samping—berusaha menghindari batas pandang Tuan Lee yang sedang fokus menatap Minho. Dengan perlahan ia berjalan mendekat ketika Tuan Lee terlalu sibuk berceloteh tentang putrinya dan tentang perasaannya.

Hanya beberapa langkah lagi sebelum Key mampu menjangkau Tuan Lee dan merebut Yoogeun dari tangan pria itu. Namun sayangnya, Tuan Lee menoleh ke arahnya dan menyadari dirinya terancam. “Berhenti!”

Tuan Lee mundur dan semakin dekat ke tepi jembatan. Diangkatnya tubuh Yoogeun yang menangis keras. “Jangan coba-coba mendekat!”

Key mengangkat kedua tangannya. Minho menatap tubuh Yoogeun yang kini setengahnya berada di udara, melayang di atas air sungai yang nampak pekat memantulkan warna langit yang tak berbintang. Yoora menahan nafas—atau lebih tepatnya kehilangan kendali untuk bernafas menyaksikan nyawa putranya dipertaruhkan.

Detik-detik berlalu sangat lama. Yoora menatap tangan Tuan Lee yang mencengkram tubuh Yoogeun perlahan dilepaskan sehingga anak itu kehilangan tempat untuk bergantung.

“YOOGEUN!!” Yoora berteriak keras hingga pita suaranya hampir putus. Dilihatnya tubuh Yoogeun lenyap dari pandangan matanya, yang kemudian disusul dengan bunyi debur air yang memberitahu bahwa sesuatu barusaja menghujam permukaan sungai.

BYURR!!

Selang beberapa saat kemudian Yoora mendengar bunyi debur berikutnya. Seseorang yang berada di dekatnya melompat ke dalam air—mencoba menyelamatkan bocah kecil yang kini meregang nyawa di dasar sungai.

-TBC-

luminasignature

Advertisements

32 thoughts on “The Blue in You – Chapter 4 : Mess We’ve Made

Give a flower/ fruit

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s